Betis Singkong

Abad penjelajahan, yang ditandai dengan kehebohan pengelana laut (dan darat)  Eropa ke berbagai pelosok dunia, sekaligus menorehkan pahitnya kolonialisme mencekik masyarakat Asia dan Afrika, juga menghasilkan revolusi pangan di dunia. Banyak tanaman bernilai karbohidrat tinggi endemik ‘dunia baru’, sejak itu juga tersebar dan  dibudidayakan di dunia lebih luas. Ragam talas dan umbi-umbian Asia muncul di halaman rumah warga Eropa. Sukun yang ditemukan kapten Inggris, James Cook, di pulau-pulau kecil di Kepulauan Seribu, Jakarta, dibawa dan dikembangkan di benua baru yang  ia (merasa) temukan: Australia.

Demikian halnya dengan singkong asal Amerika Selatan. Tak cuma ke wilayah Nusantara, Portugis dan Spanyol –diikuti Belanda, Inggris dan kaum kolonial lain saat itu–  juga menanamnya di berbagai koloni mereka di Asia dan Afrika. Barangkali awalnya hanya sekadar untuk makanan kuda dan  para kuli yang membangun benteng. Tapi, karena mudah tumbuh dan menghasilkan umbi di tanah gersang sekalipun,  sebentar saja singkong populer sebagai sumber bahan pangan. Bahkan, di banyak negeri kehadiran singkong segera menggeser peranan ragam ubi lokal yang sejak lama menjadi bahan pangan tradisional.

Puak-puak budaya di Amerika Selatan menyebut singkong sebagai manihot. Karena itu, para ahli tumbuhan pun menabalkannya ke dalam bahasa Latin sebagai Manihot esculanta. Orang Brasil sendiri menyebutnya macaxeira, dan di Paraguay disebut  mandioca, sementara di negara-negara lain di Amerika Selatan populer dengan sebutan mandio, yang dalam lidah Prancis jadi mandioc, dan di Haiti jadi manyok.

Dunia internasional umumnya ikut cara Inggris, menyebutnya cassava. Sebagian masyarakat Indonesia menyebutnya ketela, yang di Jawa Tengah terpenggal jadi  telo. Secara etimologis ketela berasal dari kata castilla (dibaca kastilya), karena tanaman ini dibawa oleh orang Portugis dan Spanyol yang saat itu masih ditengarai sebagai orang Castilla, kota pelabuhan di Spanyol. Di Jawa, kata ketela atau telo juga biasa digunakan untuk menyebut ubi rambat.

Untuk membedakannya maka singkong lantas disebut ketela (telo) pohon. Di Jawa Timur, tela pohon juga disebut tela pohung atau pohung saja, sementara di Madura tela belada atau ketela belanda. Tak kalah menarik, ada kawasan budaya di Jawa Tengah menyebutnya ubi bodin atau bodin saja. Di kawasan Melayu umumnya populer dengan sebutan ubi kayu, yang dalam lidah masyarakat Aceh menjadi ubi kayee.

Di Indonesia sebutannya memang macam-macam: garingkau (Batak), anpen, kasepan, sampeu (Sunda), kasela (Bali), lau ai (Sumba), ali uhi (Timor), uwi kayu (Flores), kasubi (Gorontalo), lame kayu (Makassar/Bugis), bata kayu (Sulawesi Utara),  mangkale (Tanimbar), kawawa (Aru), kasbi (Ambon), mangkau (Buru), asbi (Halmahera), kasibi (Tidore), kasbi (Ternate), kasuami (Wakatobi), pangala (Papua), bungkahe di Sangihe, dan kasubi di Tolitoli.

Nama singkong populer di kalangan orang Betawi, masyarakat budaya asli yang turun-temurun sudah tinggal di wilayah kota yang kemudian dibangun Belanda sebagai Batavia. Konon, penamaan ini lahir dari rupa bentuk umbi singkong yang langsung mengingatkan pada bentuk betis atau lengan si engkong, yang berarti kakek dalam bahasa Betawi. Benarkah? Entah. Yang pasti, sebutan singkong juga dikenal menyeluruh di kalangan etnik Betawi yang secara budaya menyebar di kawasan Jabodetabek. Sebutan tradisional ini pula yang kemudian populer secara nasional, mengalahkan popularitas istilah ubi kayu yang dicatat Kamus Besar Bahasa Indonesia.

0 comments on “Betis SingkongAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *