Tiwul Makanan Tradisional Di Indonesia

Tiwul merupakan salah satu  makanan tradisional di Indonesia yang berbahan dasar dari tepung gaplek. Tepung gaplek adalah sumber karbohidrat lebih tinggi yaitu 88,2 per 100 gram dibandingkan dengan beras yang memiliki kandungan karbohidrat 78,9 per 100 gram. Tiwul dikonsumsi sebagai makanan pokok penganti nasi setelah padi dan jagung serta digunakan sebagai makanan cadangan oleh sebagian masyarakat. Di daerah tertentu, tiwul digunakan sebagai makanan pokok.

Tiwul adalah makanan tradisional semi basah, bertekstur lembut setengah padat yang merupakan hasil pengukusan tepung gaplek yang telah diuleni dengan sedikit air dan dibentuk butiran-butiran kecil yang menyerupai biji kacang hijau. Kandungan air dan karbohidratnya cukup tinggi. Bahan yang mengandung pati dapat diolah lebih lanjut dengan proses pengeringan atau dibuat produk instan. Kandungan pati pada ubi kayu kurang lebih 34,6 %, sehingga ubi kayu dapat diolah menjadi produk instan.

Pati yang terkandung dalam tiwul yang telah tergelatinisasi dapat dikeringkan, akan tetapi tidak dapat kembali seperti sifat sebelumnya. Pati yang telah dikeringkan mempunyai kemampuan untuk menyerap air kembali (rehidrasi). Berdasarkan prinsip ini, maka tiwul dapat diolah menjadi produk yang bersifat instan dan mempunyai keunggulan antara lain tiwul menjadi bahan tahan lama atau lebih awet dan mudah dalam penyajiannya (cepat saji). Bahan utama pembuatan tiwul adalah tepung gaplek.

Tepung gaplek adalah tepung yang terbuat dari ubi kayu atau singkong (cassava), memiliki karakteristik fisik berwarna kecoklatan, agak kasar dan agak berbau. Banyak dikonsumsi oleh masyarakat sebagai bahan dasar makan penghasil karbohidrat. Secara umum, cara pembuatan tepung gaplek melalui tahap pengupasan, pencucian, pemarutan, penghancuran, pengepresan, pengeringan, penggilingan dan pengayakan.

tiwul instan

Fungsi pembuatan tepung gaplek antara lain meliputi: pengupasan yang merupakan proses penghilangan kulit dengan memotong singkong secara memanjang kemudian menyayat dan melepaskan kulit dari dagingnya. Pembersihan dan pencucian tersebut bertujuan untuk menghilangkan bagian yang tidak dikehendaki seperti tanah dan kotoran lainnya.

Pemotongan atau pengupasan umumnya dibelah atau dipotong menjadi dua belahan atau diiris tipis. Hal ini memudahkan pengeringan dan tidak mudah rusak karena pertumbuhan cendawan. Pencucian dan perendaman bertujuan untuk menghilangkan bagian lendir dan glukosida HCN yang sering terdapat pada singkong jenis tertentu yang dapat menyebabkan warna kehitaman pada gaplek karena mengandung enzim polifenolase (tannin). Selain menyebabkan perubahan warna menjadi hitam dan berlendir, juga menimbulkan bau yang tidak enak (off flavour).

Gaplek memiliki kandungan karbohidat dan senyawa lain dari seluruh bagian umbi yang dapat dimanfaatkan untuk produk pangan maupun non pangan. Gaplek memiliki kandungan pati yang sangat tinggi yaitu sekitar 70%. Dari jumlah tersebut sekitar 25% adalah berupa amilosa dan sisanya adalah berupa amilopektin. Tingginya kandungan amilopektin ini menyebabkan gaplek tidak cepat mengeras setelah dimasak.

0 comments on “Tiwul Makanan Tradisional Di IndonesiaAdd yours →

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *